Selasa, 13 Oktober 2009

Hikmah di Balik Musibah


Banyak orang merasa hina karena ditimpa musibah. Terlebih jika bencana tersebut berbentuk penyakit menahun atau menular atau berbentuk bencana yang datang secara beruntun. Padahal sakit atau cobaan yang lain adalah kesempatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk menghapuskan dosa. Tentu dengan catatan bahwa si hamba bersabar, tidak banyak mengeluh, tidak menyalahkan Allah ta’ala. Musibah juga merupakan ajang yang Allah berikan untuk meninggikan derajat seseorang.
Itulah sebabnya, tidak sedikit salafus-shalih yang menikmati musibah yang menimpa mereka. Derita dunia ada batasnya, derita akhirat tidak terbatas. Surga Allah sangat mahal harganya. Amal belaka tidak cukup untuk memperolehnya. Seorang ulama mengatakan, “ Timbangan kebaikan seseorang kelak, kadang bukan buah dari amal shalih yang ia lakukan, tetapi buah dari kesabarannya, buah dari bersikap baik dan buah dari ridha atas ketentuan-Nya… .”
Dalam tulisan singkat ini, penulis akan menjelaskan bahwa orang sakit atau orang yang kena musibah bukanlah orang yang hina di hadapan Allah SWT. Semuanya akan dijelaskan berdasarkan keterangan yang penulis dapatkan dari al-Qur’an dan Sunnah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua di sisi Allah SWT.

Orang sakit atau yang dapat musibah, bukanlah orang yang hina di hadapan Allah

Mereka bukan orang hina di hadapan Allah, bahkan sebaliknya mereka adalah orang-orang yang mulia di sisi Allah SWT. Hal ini disebabkan oleh :

1. Allah memuliakan orang yang sakit baik karena terjadinya bencana atau tidak, dengan cara memberikan dua penghormatan kepada mereka sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits qudsi

ﺇن الله عزوجل يقول يوم القيامة : ياابن ﺁدم ... مرضت ولم تعدني. قال : يا رب كيف أعودك وأنت رب العالمين قال : أما علمت أن عبدي فلانا مرض فلم تعده أما عامت أنك لو عدته لوجدتني عند ه
“ Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman pada hari kiamat : ‘Wahai anak Adam, Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku ?’ Berkata anak Adam : ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam ?’ Allah ta’ala menjawab : ‘Apakah engkau tidak mengetahui kalau hamba-Ku si fulan sakit dan engkau tidak menjenguknya ?! Apakah engkau tidak mengerti bahwa jika engkau menjenguknya , niscaya akan engkau dapati Aku di sisinya “. (HR. Muslim )

Renungkanlah Firman Allah kepada hamba-Nya “ Aku sakit, mengapa engkau tidak menjenguk-Ku ?” Sungguh mengejutkan, Allah menjadikan sakit seorang hamba seakan-akan Dialah yang menderita sakit. Hal ini tidak lain adalah sebagai suatu penghormatan kepada hamba-Nya yang sakit, dan merupakan bukti kedekatan Allah kepadanya. Maka berbahagialah orang-orang yang sedang sakit. Penghormatan lain yang terdapat dalam hadits adalah firman Allah “Apakah engkau tidak mengerti bahwa jika engkau menjenguknya , niscaya akan engkau dapati Aku di sisinya “. Subhanallah … Allah berada di sisimu wahai orang sakit, memuji orang yang menjengukmu dan mencela orang yang tidak menjengukmu. Ini adalah penghormatan di atas penghormatan menjadi bukti bahwa orang sakit bukan orang yang hina, tetapi justru sebaliknya.

2. Musibah merupakan bukti bahwa Allah masih mencintaimu. Rasulullah Saw bersabda
من يرد الله به خيرا يصب منه
“ Siapa yang Allah berkehendak kebaikan pada dirinya, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya “. (HR. Bukhari no. 5645)
Kebaikan yang dimaksud oleh hadits antara lain adalah :

 Penghapusan dosa, sebagaimana sabda Rasulullah Saw,

ما من مسلم يصيبه أذي من مرض فما سواه ﺇلا حط الله به سيئاته كما تحط الشجرة ورقها
“ Tidaklah seorang muslim yang ditimpa musibah penyakit atau musibah lain, kecuali Allah hapuskan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya “. (HR. Bukhari no. 5667)

ما يصيب المسلم من نصب ولاوصب ولا هم ولا حزن ولا أذي ولا غم حتي الشوكة يشاكها ﺇلا كفر الله بها من خطايا ه

“ Tidak ada kepenatan, sakit menahun, kebimbangan, kesedihan, penderitaan, dan kesusahan yang menimpa seorang muslim, sampai duri yang menusuknya, kecuali dengan itu semua Allah hapus dosa-dosanya “. (HR. Bukhari no. 5641)

Sesungguhnya musibah walaupun kecil seperti tertusuk duri, apalagi musibah besar seperti bencana alam, adalah kafarah terhadap dosa-dosa, dan bersyukurlah kepada atas musibah yang dialami karena ia adalah nikmat, yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa. Hal ini karena Allah mencintaimu dan menginginkanmu berjalan di atas bumi ini tanpa dosa-dosa.

 Peningkatan derajat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها ﺇلا كتبت له بها درجة ومحيت عنه بها خطيئة
“ Tidaklah seorang muslim tertusuk duri, atau sesuatu yang lebih kecil dari duri, kecuali akan ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan “.

Bahkan, Allah telah tetapkan untuk sebagian manusia kedudukan yang tinggi di surga, tetapi tidak ada satupun amalan shaleh darinya yang bisa mengantarkan dia mencapai kedudukan tersebut. Maka Allah akan timpakan kepadanya musibah sebagai ujian untuknya, sehingga ia akhirnya berhasil mencapai kedudukan yang sebelumnya tidak bisa dicapai dengan amal shaleh yang ia miliki. Rasulullah Saw bersabda,

ﺇن الرجل لتكون له عند الله المنزلة فمايبلغها العمل , ولا يزال الله يبتليه بما يكره حتي يبلغه ﺇياها
“ Sesungguhnya ada orang yang mendapat kedudukan di sisi Allah, akan tetapi tidak ada satu amalan pun darinya yang bisa mengantarkannya mencapai kedudukan itu, oleh karena itu Allah Ta’ala mengujinya dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Sehingga dengan hal itu, ia mendapatkan kedudukan tersebut “. (HR. Ibnu Hibban)

 Pengantar ke surga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari hadits no. 5652 yang maknanya:

“ Telah datang kepada Nabi Saw seorang wanita, ia berkata : ‘ Aku terkena penyakit ayan. Dan terkadang karenanya sebagian tubuhku tersingkap, doakanlah aku !” Rasulullah bersabda : ‘ jika engkau mau, bersabarlah maka bagimu surga sebagai balasannya. Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah supaya menyembuhkanmu ‘. Lalu wanita tersebut berkata : ‘ Saya akan bersabar ‘. Kemudian dia berkata : ‘ Sesungguhnya karena ayan ini sebagian tubuhku tersingkap, doakanlah kepada Allah agar tubuh saya tidak tersingkap (ketika penyakitnya kambuh)’. Rasulullah Saw pun mendoakannya. “

Hadits ini tersebar di kalangan para sahabat, sehingga Ibnu Abbas Ra berkata kepada Atha’ bin Abi Rabah : ‘ Maukah engkau aku perlihatkan wanita penghuni surga ?’ Atha’ menjawab : ‘ Tentu saja mau .’ Lalu Ibnu` Abbas berkata : ‘ Wanita ini .’ Kemudian beliau tunjuk wanita tersebut dan meriwayatkan hadits di atas.
Dalam sebuah hadits qudsi juga dijelaskan, bahwa orang yang bersabar terhadap musibah yang menimpanya di dunia, maka balasan baginya adalah surga.

ﺇن الله تعالي قال : ﺇذابتليت عبدي بحبيبتيه فصبرعوضته منهما الجنة
“ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “ Apabila Aku menimpakan musibah kepada kedua mata hamba-Ku, lalu dia bersabar, maka Aku menggantinya dengan surga “. (HR. Bukhari no. 5653)
Mata merupakan anggota tubuh yang paling dicintai oleh manusia. Dengan mata dia bisa menikmati apa yang ia lihat. Maka siapa yang kehilangan mata, baik karena bencana atau tidak, bersabarlah karena balasannya adalah surga.

3. Orang yang sering mendapat cobaan, bukanlah orang yang direndahkan oleh Allah SWT. Perhatikanlah hadits berikut,

سئل النبي صلي الله عليه وسلم : أي الناس أشد بلاءا ؟ قال : الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل يبتلي الرجل علي حسب دينه حتي يمشي علي الأرض وما عليه خطيئة
“ Nabi Saw ditanya ‘ Manusia manakah yang paling bersangatan cobaan baginya ?’ Rasulullah Saw menjawab ‘ Para nabi, kemudian orang shalih sesudahnya. Seseorang diberi cobaan sesuai dengan imannya, sehingga dia berjalan di atas bumi tanpa ada kesalahan .” (HR. Turmudzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

أشد النا س بلاء الأنبياء ثم العلماء ثم الصالحون
“ Orang yang mendapat cobaan paling berat adalah para nabi, kemudian para ulama, kemudian orang-orang shalih .” (HR. al-Hakim)
Dengan dua hadits ini terbukti bahwa orang yang sering dapat cobaan bukanlah orang hina, bahkan sebaliknya, mereka adalah orang-orang pilihan dan orang-orang yang paling Allah cintai. Karena Allah mencintai mereka, maka diberikanlah cobaan agar dosa-dosa dihapuskan, derajat keimanan semakin tinggi, dan akhirnya menempati tempat yang mulia di surga. Begitu juga, Allah memberikan musibah sesuai dengan tingkat keimanan. Jika imannya kuat, maka ujian yang menimpanya akan semakin berat. Jika imannya tipis, maka ujiannnya pun akan ringan. Sekarang kita mau memilih yang mana… ujian berat yang merupakan bukti pengakuan Allah, bahwa iman kita kuat, atau ujian ringan yang menandakan iman kita masih tipis ?

(penulis : Farhan Syarifuddin, Lc )

Tafsir surat al-Kautsar


بسم الله الرحمن الرحيم
ﺇنا أعطيناك الكوثر ● فصل لربك وانحر ● ﺇن شانئك هوالأبتر
Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah ! Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Surat yang telah kita bacakan tadi adalah surat yang paling pendek dalam al-Qur’an, yaitu surat Al Kautsar yang terdiri dari 3 ayat. Diturunkan sesudah surat Al 'Aadiyaat dan dia termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, artinya surat yang turun sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah.. Dinamai Al Kautsar (nikmat yang banyak) disebabkan adanya perkataan Al Kautsar yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Dalam surat al-Kautsar, terdapat banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dan kemudian dapat kita jadikan pedoman dalam hidup ini. Di antaranya adalah :

1. Dalam ayat pertama, Allah berfirman yang artinya Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak , dari ayat ini kita mengetahui bahwa Allah lah yang telah memberikan nikmat kepada makhluk ciptaan-Nya, sesuai dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah. Maka barangsiapa yang mengaku sebagai hamba Allah, seharusnya dia juga bersifat pemurah tidak bakhil dan tidak kikir. Jika mengaku sebagai hamba Allah, sementara masih bersifat bakhil, maka dia bukanlah hamba Allah yang sempurna. Rasulullah Saw adalah manusia yang paling pemurah, apalagi ketika bulan ramadhan. Dalam masalah ini Rasulullah Saw pernah bersabda :

ما من يوم يصبح العباد فيه ﺇلا وملكان ينزلان فيقول أحدهما : أللهم اعط منفقا خلفا ويقول الأخر : أللهم اعط ممسكا تلفا
Artinya : Tidak ada hari yang hamba-hamba Allah memasuki waktu pagi kecuali ada dua malaikat yang turun, yang satu berdoa : Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak. Dan satunya lagi berdoa : Ya Allah, berilah kerusakan kepada orang yang menahan hartanya (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam realita kehidupan, kita sering melihat bahwa banyak orang berinfak atau bersedekah berada dalam kehidupan yang susah. Sebaliknya, banyak orang bakhil yang hartanya semakin bertambah, hidupnya semakin mewah. Jadi apakah hadits ini berdusta ?
Pertanyaan seperti akan muncul kalau kita memahami pengganti hanya sebatas aspek harta. Padahal, masalahnya lebih luas dari itu. Pengganti tersebut maksudnya adalah balasan dari Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang berinfak dan maknanya lebih luas daripada harta. Bisa saja jika seseorang berinfak, Allah akan mengganti apa yang telah dia berikan dalam bentuk kesehatan yang digunakan untuk ibadah, atau dalam bentuk kedamaian dalam keluarga, kecerdasan anak-anaknya, atau selalu mendapatkan jalan keluar ketika mengalami masalah, atau sesuatu yang sulit, bagi dirinya selalu jadi mudah, atau mendapatkan sesuatu yang selama ini diidam-idamkan, bisa jadi begitu pengganti yang diberikan Allah bagi orang yang berinfak. Jadi, tidak mesti berupa harta. Yang jelas, Allah berjanji akan mengganti setiap apa yang kita infakkan di jalan-Nya. Allah berfirman dalam surat Saba’ ayat 39

وما أنفقتم من شيئ فهو يخلفه
Artinya : Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya
Begitu juga dengan kerusakan yang didoakan bagi orang-orang yang bakhil suka menahan-nahan hartanya. Tidak mesti dia langsung bangkrut. Bisa jadi berbentuk tiap bulan dapat penyakit, atau selalu mengalami kesempitan dada, atau tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia miliki, atau dia mendapatkan kesehatan dan umur yang panjang tetapi tidak digunakan untuk beribadah. Jadi, pengganti bagi yang berinfak dan kerusakan bagi yang bakhil lebih luas maknanya dari sekedar harta (materi).

2. Pelajaran yang kedua adalah dalam ayat pertama Allah berfirman yang artinya : Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak … maka syukurilah ! Jadi ayat ini secara tidak langsung menyuruh kita untuk bersyukur atas karunia Allah yang kalau dicoba untuk menghitungnya, tidak akan sanggup kita untuk menghitungnya…

و ﺇن تعدوا نعمة الله لاتحصوها
Artinya : Jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tidak akan sanggup menghitungnya (surat Ibrahim ayat 34)

Karena sudah sekian banyak nikmat Allah yang kita nikmati, maka sudah sangat sepantasnya kita mensyukurinya. Dan sedikit sekali orang yang mensyukuri nikmat Allah…mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Amin.
Untuk menjadi orang yang bersyukur, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi yaitu, Pertama, selalu menjaga dan memelihara nikmat yang telah diberikan seperti jika kita diberi kesehatan maka jagalah kesehatan tersebut. Jangan dirusak dengan hal-hal yang sudah jelas-jelas berbahaya untuk kesehatan seperti merokok. Kedua, menggunakan nikmat tadi sesuai dengan perintah Allah. Ibarat orang yang dapat amanah dari orang lain, maka dia harus menjalankan amanah sesuai dengan keinginan orang yang memberikan amanah. Begitu juga nikmat Allah, kita harus mempergunakannya sesuai dengan perintah Allah karena Allah yang memberikannya kepada kita.
Sekarang timbul pertanyaan, supaya kita disebut orang yang bersyukur, kita menggunakan nikmat itu sesuai dengan perintah atau keinginan Allah, sekarang…apa keinginan Allah dalam nikmat yang Dia berikan untuk kita ? Jawabannya ada dalam ayat kedua yaitu,

فصل لربك وانحر

Allah menginginkan kita untuk melaksanakan shalat dan melaksanakan qurban ikhlas karena-Nya. Artinya, kalau ingin bersyukur, wujudkanlah rasa syukur itu dalam bentuk ibadah, jangan hanya di bibir saja. Ibadah itu baik yang bersifat spiritual seperti shalat maupun yang sifatnya material seperti berkurban. Jadi dua ibadah ini mewakili seluruh ibadah yang ada. Dan yang penting diperhatikan adalah lafaz ‘lirabbika’ yang ada dalam ayat kedua. Dalam beribadah perhatikanlah niatnya karena niat factor penentu apakah ibadah kita diterima atau tidak. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim :

ﺇنماالأعمال بالنيات وﺇنمالكل امرئ مانوي
Artinya : Sesungguhnya amalan itu tergantung kepada niat dan sesungguhnyaseseorang akan menerima balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan.

Namun niat yang ikhlas saja belum cukup. Masih ada satu hal lagi yang harus diperhatikan yaitu tata cara pelaksanaan. Jika niat beribadahnya ikhlas, sementara cara pelaksanaannya salah maka amal ibadahnya tidak diterima. Begitu juga jika cara pelaksanaannya betul tapi niatnya salah, maka tidak akan diterima amalannya. Amal akan diterima jika niatnya ikhlas dan pelaksanaannya betul sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Jadi, wujudkanlah rasa syukur dalam bentuk ibadah baik spiritual seperti shalat maupun material seperti kurban. Dan dalam beribadah tadi betulkan niat dan tata cara pelaksanaannya agar ungkapan rasa syukur kita itu benar-benar sempurna.

3. Dalam ayat ketiga terdapat pelajaran yang sangat penting yaitu, istiqamah dalam beribadah, jangan mudah menyerah jika ada rintangan. Dalam ayat pertama Allah memerintahkan kita secara tidak langsung untuk mensyukuri nikmat-Nya dengan cara menjaga dan memelihara nikmat tersebut kemudian menggunakannya sesuai dengan perintah Allah. Dalam ayat kedua dijelaskan apa saja yang Allah perintahkan yaitu shalat dan berkurban. Dua ibadah ini mewakili seluruh ibadah yang ada dalam Islam. Dalam beribadah yang merupakan wujud dari rasa syukur kita tadi, harus memperhatikan dua hal yaitu niat dan tata cara pelaksanaan. Setelah semuanya kita lakukan, maka akan ada saja pihak yang mencela amal kebaikan kita. Oleh karena itu dalam ayat ketiga Allah memberitahukan dua berita, satu buruk yang satu lagi gembira. Berita buruknya adalah jika kita beramal kebajikan, jangan disangka semua orang akan suka kepada kita. Akan ada saja yang tidak suka. Kalau kita suka bersedekah, maka yang tidak suka adalah orang yang bakhil. Jika kita rajin shalat maka yang tidak suka adalah orang yang tidak suka shalat. Sedangkan berita gembiranya adalah orang-orang yang tidak suka kita beramal shaleh itulah orang-orang yang terputus dari rahmat Allah. Oleh karena itu teruslah beramal kebaikan walaupun ada pihak yang tidak suka sebab Allah tidak marah kepada kita tapi marah kepada pihak yang membenci orang yang berbuat baik, rahmat Allah pada mereka akan terputus, sebagaimana firman-Nya

ﺇن شانئك هوالأبتر

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Sebagai penutup, akan kita simpulkan apa yang telah disampaikan,
• Jadilah orang muslim yang pemurah yang suka berbagi nikmat dengan muslim yang lain.
• Syukurilah nikmat yang telah Allah berikan dengan cara menjaga nikmat tersebut dan mempergunakannya sesuai perintah Allah.
• Wujudkan rasa syukur itu dalam bentuk ibadah baik yang spiritual (hablum minallah) maupun material (hablumminannas)
• Dalam ibadah yang merupakan wujud dari syukur kita, betulkan niat dan cara pelaksanaan.
• Dalam melakukan hal-hal yang telah kita sebutkan, kita dituntut untuk istiqamah, pantang menyerah karena akan ada saja pihak yang mencela.(penulis : Farhan Syarifuddin, Lc)

Senin, 28 September 2009

Sabtu, 11 Juli 2009

Kelas Tahfizh Quran Marak di Turki



Pemerintahan Turki baru-baru ini membuka kelas-kelas belajar, mengaji, sekaligus hafalan al-Qur'an untuk anak- anak negerinya yang tengah menjalani liburan tahunan musim panas. Kebijakan pemerintah untuk membuka kelas-kelas tersebut terbilang baru.

Kelas-kelas ini dibuka secara gratis, dan dikelola oleh para profesional dan guru-guru al-Qur'an terbaik. Selain itu, kelas-kelas ini pun tak hanya dibuka di kota tertentu saja, melainkan di hampir seluruh provinsi-provinsi Turki, mulai dari Aegean di Eropa hingga Diyarbakar di wilayah timur. Tak pelak, masyarakat Turki yang mayoritas Muslim pun menyambut baik kebijakan ini, dan berbondong-bondong memasukkan anak- anak mereka ke kelas-kelas qur'ani tersebut.

Kebijakan ini tak lepas dari peran pemerintahan Turki yang dikuasai oleh AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dengan PM-nya Recep Tayep Erdogan dan Presidennya Abdullah Gul.

Sejak masa kekausaannya, partai berhaluan Islam moderat ini menampakkan komitmen dan kesungguhannya untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai Islami, sekaligus memajukan Turki dari segala bidang, seolah tak mau kalah oleh tetangga mereka: Eropa.

Kelas-kelas tersebut nantinya akan dibawahi oleh Dewan Fatwa Turki sekaligus Lembaga Amal dan Wakaf Turki yang mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Keagamaan Turki.

Selain itu, untuk menambah kesuksesan program al-Qur'an ini, pemerintahan Turki juga akan memberikan penghargaan kepada kelas-kelas dan madrasah-madrasah yang dapat menyelanggarakan program ini dengan baik.

Dengan dibukanya kelas-kelas al-Qur'an tersebut, semoga kecintaan masyarakat Turki terhadap al-Qur'an kian meningkat, dan dapat mengamalkan ajaran-ajaran luhur dan mulianya dalam kehidupan sehari-hari. (L2/db)(www.eramuslim.com)

Rabu, 01 Juli 2009

Buku Manajemen Qalbu ala Mesir


Judul : Semulia Akhlak Nabi
Penulis: Amru Khalid
Ukuran : 15 x 23 cm ; 280 hal


Dalam sebuah seminar, seorang tokoh pernah berkata “Jangan samakan Islam dengan umatnya! Islam itu akan selalu mulia, tetapi tidak demikian dengan umatnya.” Hal ini tentunya menjadi satu kenyataan yang paradoks, aneh dan mengejutkan. Betapa tidak, dalam sebuah catatan statistik dikatakan bahwa, para pelaku kriminalitas sebagian besarnya di negeri ini adalah orang yang beragama Islam, belum lagi tingkah laku kaum muslimin dewasa ini yang semakin lama semakin terlepas dari sifat dan ciri khas orang-orang yang mendapatkan risalah Islam.

Pun demikian, pada masa lalu, banyak orang memeluk Islam karena terpesona dengan akhlak seorang muslim. Sebut saja Suraqah, pemuda Quraisy yang begitu bersemangat membunuh Nabi. Ia masuk Islam setelah dimaafkan Nabi–padahal waktu itu Nabi berada diatas angin untuk ganti membunuhnya

Demikian pula, dengan penduduk Himsha–yang semula Kristen- berbondong-bondong masuk Islam, setelah mengetahui kejujuran kaum muslimin. Penguasa muslim saat itu mengembalikan pajak yang ditarik, karena mereka akan meninggalkan kota tersebut, sehingga tak lagi mampu memberikan perlindungan.

Kisah tentang seorang Yahudi –yang dimenangkan oleh pengadilan atas Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam kasus sengketa baju besi- pun semakin menghiasi ketinggian akhlak Islam. Bahkan sejarah masuknya Islam di Asia diawali ketertarikan penduduk setempat terhadap kejujuran para pedagang muslim yang datang berniaga.

Namun, sejarah emas akhlak muslim tersebut kini seolah pudar. Akhlak sebagian besar kaum muslimin semakin hari semakin memprihatinkan. Betapa banyak orang bertitel haji, namun tingkah-lakunya tak terpuji. Demikian pula dengan gaya hidup pemuda-pemudi Islam, yang nyaris tak ada bedanya dengan kebudayaan Barat.


Begitu dalamnya dalamnya dekadensi moral yang melanda kaum muslimin, sampai-sampai seorang mualaf berkomentar, “Alhamdulillah, saya telah masuk Islam sebalum mengetahui akhlak kaum muslimin.”


Seolah menjadi bagian dari keprihatinan tersebut, buku ini hadir. Di dalamnya, Penulis memaparkan sendi-sendi akhlak yang menjadi keistimewaan ajaran Islam dibanding agama manapun. Anada akan dituntun untuk meniti sendi-sendi tersebut, disertai contoh-contoh aplikatif dari kehidupan generasi Islam pertama, dan tips-tips untuk mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan menghadirkan bahasa yang akrab dan komunikatif, Penulis berhasil menghadirkan sketsa akhlak, yang sebenarnya menggambarkan betapa besar kasih-sayang tersebut, sampai-sampai iblis pun mengintip dengan iri karena ingin mendapatkannya.